Belajar Bersyukur

“Sibuk bersyukur, itu yang akan membuat kita berhenti mengeluh dan enjoy menjalani kehidupan sehari-hari”,salah satu kata-kata ketika saya ngobrol dengan salah satu teman. Dan memang benar, dengan sibuk bersyukur kita akan lupa untuk berkeluh kesah dan lupa mencari-cari kesalahan orang lain.

Beberapa waktu yang lalu ketika sedang asyik mengerjakan materi presentasi, datanglah salah satu karyawan bagian produksi ke ruangan saya untuk mengantarkan contoh produk yang saya minta. Melihat saya yang sedang asyik bekerja sambil browsing-browsing materi untuk presentasi tiba-tiba dia berkata “Enak ya mba, bisa kerja sambil duduk” sambil tersenyum dan kemudian menata produk sambil berceloteh. Sementara sayapun menghentikan pekerjaan saya beberapa saat dan mendengarkan celotehannya sambil sesekali memberikan komen. Ya obrolan ringan disela-sela pekerjaan.

Obrolan itu ternyata membekas dalam pikiran saya. Betapa selama ini mungkin saya kurang bersyukur. Padahal untuk sebagian orang mungkin apa yang saya kerjakan atau dapatkan selama ini merupakan hal yang mereka inginkan dan hanya bisa membayangkan saja. Bisa bekerja sambil duduk adalah sesuatu yang biasa saja untuk saya, tapi bisa jadi sesuatu yang luar biasa untuk orang lain. Bisa bekerja tanpa perlu harus berpanas-panasan mungkin saja jadi impian bagi orang lain. Sering tugas ke luar kota yang membuat kita harus bangun dini hari untuk mengejar penerbangan paling pagi, dan kemudian baru sampai rumah lagi tepat tengah malam mungkin membuat kita mengeluh lelah. Tapi bisa jadi hal itu membuat orang lain iri karena mereka harus berkutat dibelakang meja untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Categories: The Stories | Leave a comment

Camping Malas di Awal Tahun 2015 (Part1)

Liburan menyenangkan tidak harus mahal. Cukup tempat yang nyaman untuk bersantai dan teman-teman yang ngga rewel ternyata bisa membuat liburan terasa maksimal. Seperti liburan di awal tahun kemarin. Berawal dari rasa kangen untuk jalan-jalan absurd tanpa tujuan ketika liburan akhir tahun tapi kemudian malas dengan keramaian membuat kami memutuskan mencari tempat yang lumayan sepi untuk bermalas-malasan. Setelah dipertimbangkan akhirnya kami memilih untuk camping malas di Wonosalam, suatu desa di datarin tinggi Jombang yang terkenal sebagai sentra durian.

Pada hari H, terkumpulah sebelas orang peserta. 7 cowok dan 4 cewek. Kami memutuskan untuk mengendarai motor dari Surabaya. Yah anggap saja touring. Dengan total enam motor kami bergerak menuju Wonosalam. Kami memilih jalanan yang bukan jalur bis, karena terus terang saya agak keder jika harus berpapasan dengan mobil penumpang berukuran besar tersebut. Ditengah perjalan sempat ada motor yang bannya mengalami kebocoran, namun so far perjalanan bisa dibilang lancar. Setelah menempuh perjalanan selama dua setengah jam, sampailah kami di tempat tujuan. Sebuah kebun milik pribadi yang sebagian lahannya disulap menjadi tempat untuk bersantai sekaligus bisa untuk camping.

20150102_08232820150102_091151

20150102_080222

Begitu memasuki halaman yang terlihat adalah sebuah taman dengan kolam ikan yang dilengkapi jembatan diatasnya. Lebih masuk lagi terlihat sebuah gazebo yang terlihat cukup menyenangkan untuk duduk-duduk santai. Kami pun memutuskan duduk di gazebo untuk menghilangkan lelah dan beberapa orang memilih untuk bermain di “playground” yang ada di dekat gazebo sembari menunggu makanan siap. Oh ya, karena konsep acaranya adalah camping malas, maka kami memutuskan untuk meminta tolong mbak penjaga kebun yang masakannya selalu enak itu untuk memasakkan makanan selama kami disana.

Continue reading

Categories: The Journeys | Leave a comment

Bromo Marathon. I Ran The Adventure

Lari, belakangan menjadi kegiatan olahraga yang disukai oleh masyarakat. Tidak hanya disukai saja, bahkan olahraga ini menjadi lifestyle. Hal ini bisa kita lihat maraknya event-event lari baik yang fun running maupun marathon. Dan rata-rata peserta event ini mencapai angka 1000 peserta. Salah satu event tahun ini yang menarik adalah Bromo Marathon 2014 yang diselenggarakan pada tanggal 7 September 2014 yang lalu. Event lari internasional ini diikuti oleh 1500 peserta baik dari dalam maupun luar negeri. Peserta Bromo Marathon ini dibagi menjadi 3 kategori yaitu Full Marathon (42K), Half Marathon (21K) dan 10K. Dan saya pun dengan mantap mendaftar di kategori 10K dengan segala pertimbangan. Yang pertama, saya belum terlalu lama menekuni olahraga lari. Jalur lari di Bromo yang pastinya akan menemui jalur naik dan turun jadi alasan utama memilih jalur terpendek.

IMG_20140907_120556IMG_20140907_120602sehari sebelum hari H saya bersama beberapa teman Indorunners Surabaya, komunitas lari di Surabaya, berangkat ke Desa Wonokitri yang menjadi lokasi Bromo Marathon. Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Desa Wonokitri, banyak hal yang bisa dilihat dan dialami. Mulai dari kesasar ke jalanan desa yang sangat sempit hingga shock dan nyali ciut melihat jalur lari keesokan harinya yang banyak berupa tanjakan yang lumayan curam. Setelah 4 jam perjalanan sampailah kami di penginapan yang telah disewa oleh teman-teman Indorunners Surabaya.

Continue reading

Categories: The Journeys | Leave a comment

Ayo Lari!!

Belakangan saya ketagihan yang namanya lari. Bermula dari iseng mengisi waktu setelah resign dari kantor lama, saya pun mulai rajin pagi. Seminggu tiga kali lari keliling komplek perumahan. Awalnya dengan jarak yang tidak terlalu panjang antara 3-4K sekali lari dan tentu saja dengan nafas ngos-ngosan efek terlalu lama tidak olahraga. Setelah dua minggu rutin lari, ternyata saya merasakan efek positif yaitu tidur jadi lebih teratur dan nyenyak. Ya sudah saya pun meneruskan kegiatan lari ini. Setelah memutuskan untuk kembali bekerja pun, alhamdulillah dapat kantor yang dekat rumah sehingga tidak mengganggu rutinitas lari pagi.

lari

 

Setelah menemukan enaknya lari sempat mencoba bergabung lari tiap selasa dan kamis malam dengan komunitas lari di Surabaya. Komunitas yang bersifat open member dan tidak ada paksaan untuk datang, ditambah membernya yang friendly cukup membuat nyaman untuk lari sepanjang 5K di jalan protokol Surabaya. Namun sayang, karena dilakukan di jalan protokol yang tentu saja banyak kendaraan bermotor ditambah kadar oksigen dimalam hari yang menipis membuat stamina cepat drop dan nafas agak terganggu.

Continue reading

Categories: The Journeys | 8 Comments

Sepenggal Surga Indonesia bernama Ranu Kumbolo (part 2)

Badan lelah akibat pendakian selama kurang lebih lima jam, malam harinya saya tidur nyenyak hingga keesokan paginya. Udara dingin membuat keluar dari sleeping bag pun enggan, apalagi keluar dari tenda. Tetapi demi mendapatkan pemandangan yang aduhai pada saat matahari mulai keluar dari persembunyiannya, saya pun memaksakan diri untuk menantang dinginnya udara pagi Ranu Kumbolo.

Badan mulai menggigil ketika saya mulai melangkah keluar tenda. Dua jaket yang saya pakai hanya mampu memberi sedikit kehangatan. Sambil menunggu matahari mulai terbit, saya duduk didepan tenda sambil membuat cereal membantu menghangatkan badan sambil berharap matahari tidak tertutup kabut. Tampak tetangga-tetangga tenda yang lainnya pun mulai bangun dan mulai beraktifitas.

Syukurlah, cuaca sedang bersahabat dengan kami. Perlahan langit mulai merah dan sinar matahari mulai muncul diantara dua bukit yang membuat pemandangan tampak sangat cantik. Dan mulailah aktifitas memotret dimulai untuk mengabadikan lukisan alam itu.

sunrise

Continue reading

Categories: The Journeys | Leave a comment

Orang Miskin Dilarang Sakit

Beberapa hari belakangan ini saya akrab dengan yang namanya rumah sakit. Dua rumah sakit lebih tepatnya. Satu rumah sakit swasta dan satu lagi rumah sakit pemerintah dengan peralatan yang konon kabarnya paling lengkap di Indonesia.

Hasil beberapa kali berkeliaran di dua rumah sakit tersebut cukup membuat sedih. Mahalnya biaya pengobatan yang tidak mungkin terjangkau oleh masyarakat yang tidak mampu. Bagaimana mereka bisa berobat, jika pada saat mereka harus masuk ICU karena penyakitnya, mereka diharuskan membayar uang muka sepuluh juta. Itu belum termasuk obat dan tambahan biaya lainnya. Bagi orang yang berkecukupan mungkin tidak memberatkan, tapi bagaimana dengan mereka yang untuk makan saja ala kadarnya. Nggak usah sepuluh juta, satu juta pun sudah sangat besar bagi mereka.

Nggak heran, jika pada akhirnya banyak yang memilih tidak memeriksakan penyakitnya ke dokter atau rumah sakit. Bukan mereka tidak mau sembuh, tetapi mereka tidak berani menghadapi mahalnya biaya dokter atau rumah sakit. Dan mereka memilih untuk dirawat ala kadarnya di rumah mereka masing-masing.

Sebenarnya ada program kesehatan dari pemerintah untuk warga negara yang tidak mampu yaitu jamkesmas atau jaminan kesehatan masyarakat dimana pelayananya bisa dilakukan dinrumah sakit milik pemerintah. Tetapi sayangnya selain jumlah antriannya yang panjang, prosedurnya juga lumayan ribet. Kalau pasien tidak sakit parah dan masih bisa menunggu selama proses pengurusan jamkesmas mungkin tidak masalah. Tetapi bagaimana jika pasiennya sudah parah dan harus segera ditangani? Selama jamkesmas masih belum selesai diurus, mau tidak mau keluarga pasien harus mengeluarkan uang terlebih dahulu jika ingin pasien segera mendapatkan penanganan.

Kondisi rumah sakit juga sangat berbeda antara rumah sakit swasta dan pemerintah. Di rumah sakit swasta, Customer Service yang bertugas sangat sigap membantu pengunjung. Kebersihan rumah sakit juga sangat terjaga. Sementara di rumah sakit pemerintah bertolak belakang. Servisnya jauh dari profesional. Saya kurang tahu apakah buruknya servis itu karena pegawainya tidak pernah di training mengenai customer service atau karena mereka menganggap servis yang baik itu tidak perlu karena toh pengunjung rumah sakit itu mayoritas warga tidak mampu? Ah semoga dugaan saya yang terakhir itu salah.

Melihat kondisi seperti itu hanya satu yang bisa saya ambil kesimpulan. Intinya sakit itu hanya boleh untuk orang kaya, yang mampu membayar segala macam biaya rumah sakit. Sementara, orang miskin dilarang sakit.

Categories: The Stories | Leave a comment

Sepenggal Surga Indonesia bernama Ranu Kumbolo (part 1)

Sudah melihat film 5 CM yang dibintangi oleh Herjunot Ali, Fedi Nuril dan Pevita Pearce? Film ini menceritakan kisah petualangan 6 anak muda menuju puncak Mahameru, puncak tertinggu gunung Semeru. Sebuah petualangan yang membuat mereka semakin mencintai tanah kelahirannya, Indonesia. Keindahan alam yang tersaji di hampir sepanjang film itu tak ayal membuat banyak orang yang ingin mengunjungi gunung Semeru. Begitu juga saya dan beberapa teman.

Sayang sekali tak lama setelah film tersebut tayang, ada pengumuman yang menyatakan bahwa kawasan tersebut ditutup total untuk pendakian. Penutupan sementara itu dilakukan karena telah terjadi kerusakan ekosistem yang lumayan parah setelah event pendakian massal yang diselenggarakan oleh salah satu komunitas pada bulan november 2012. Dan kerusakan pun semakin parah setelah proses shooting film 5 CM tersebut. Penutupan kawasan tersebut bertujuan untuk mengembalikan ekosistem dari kerusakan parah akibat eksplorasi manusia yang berlebihan. Ternyata alam pun butuh istirahat agar keindahannya bisa maksimal.

Akhirnya setelah jalur pendakian Semeru dibuka kembali pada akhir april, saya dan beberapa temanpun langsung merencanakan untuk melakukan pendakian. Tentu tujuan utamanya adalah puncak Mahameru. Berbagai persiapan pun saya lakukan seperti rutin jogging dan menyiapkan perbekalan dan peralatan yang harus dibawa. Ya, saya tidak ingin asal dalam persiapan menuju puncak tertinggi di pulau Jawa tersebut mengingat pengalaman saya yang masih belum bisa dibilang banyak dalam hal pendakian.

Setelah persiapan dirasa lengkap, pada hari H pukul 8 malam berangkatlah kami berenam dari Surabaya menuju Malang untuk kemudian bergabung dengan beberapa teman yang lainnya. Setelah dua jam perjalanan, sampailah kami di terminal Arjosari, Malang. Setelah bertemu dengan yang lainnya kami meneruskan perjalanan ke Tumpang untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke desa Ranupane, desa terdekat dengan jalur pendakian, dengan menggunakan truk. Setelah 3 jam terguncang-guncang di bak truk yang terbuka, sampailah kami di desa Ranupane. Kami memutuskan tidur sembari menunggu pagi untuk memulai pendakian.

Pagi harinya setelah sarapan di salah satu warung, kami segera berjalan ke pos perijinan untuk mengurus ijin pendakian. Terlihat cukup banyak pendaki dan diantaranya ada beberapa warga negara asing. Banyaknya pendaki itu mungkin efek penutupan jalur pendakian yang sempat ditutup beberapa bulan. Sehingga begitu jalur pendakian dibuka lagi, para pendakipun berbondong-bondong mengunjungi gunung yang memiliki danau yang indah ini.

Ranupane
Continue reading

Categories: The Journeys | Leave a comment

Rangin, jajanan andalan dari masa ke masa

Pernah makan jajanan gurih dan nikmat yang terbuat dari campuran kelapa muda, tepung beras, dan air yang dipanggang dalam loyang cetakan? Mungkin banyak juga ya yang belum pernah mencoba makanan ini karena jajanan ini memang sudah mulai jarang ditemui. Nama jajanan ini adalah rangin. Rangin juga dikenal dengan nama kue gandos atau kue pancong. Makanan ini sangat nikmat ketika disajikan hangat, lengkap dengan taburan gula pasir diatasnya.

Rangin

Continue reading

Categories: The Tasty | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

Lostpacker

the journeys, the stories and the tasty...

WHATEVER I'M BACKPACKER!

the journeys, the stories and the tasty...

Wira Nurmansyah

Indonesia Travel Photography Blog